*Oleh : Yudha
**Jurusan Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir UIN SUKA
Mentari
bersinar cerah, teriknya lumayan tak panas, tak sepanas terik dimusim kemarau, yang
membuat tanah kekeringan dan debu bertebaran disepanjang jalan, mengepul bagai
debu dari letusan gunung berapi.
Waktu
berjalan begitu cepat, tak tersadari kini aku mulai beranjak semakin dewasa,
meninggalkan umur tujuh belas tahun. Meninggalkan sejuta kenangan pondok yang
terus menimbulkan kerinduan. Kini masa SMA telah berlalu dan masa kampus telah
menanti dan melambai-lambai didepan mata. Dan kini aku harus pergi meninggalkan
perkarangan rumah menuju daerah yang tak pernah kujemahi didalam hidupku.
Begitu
berat rasa hati meninggalkan bunda, jauh melangkah meninggalkannya. Hingga dua
pulau membentang menjadi penghalang dengan tanah kelahiran. Tanah yang ku
anggap sebagai tanah surga, dengan keindahan alam, pesisir pantai nan indah
dari semenanjuk selong sampai kute[1]. Ditambah dengan udara nan segar, dari pohon-pohon
yang berdiri kokoh dan lebat.

