Woensdag 29 Januarie 2014

Sepucuk Harapan Ditengah Alun-Alun Tastura

Karangan : Lalu Muh. Ahyat Bogor
Mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Sarjanawiyata (UST) Yogyakarta
angkatan 2013/2014


             Dimalam yang semakin dingin. Dihiasi rinai bingar gerimis dansorak-sorai kawananan katak. Ditambah denganlengkingan suara cempreng ibu-ibu yang sedang bersenda gurau menggunakan bahasajawa.
Akusekarang sedang berada di kota gudek(Jogja). Aku duduk seraya menikmati tiupanangin sendu kota yang dijuluki kota pendidikan ini. Aku menarik nafasdalam-dalam sembari mencoba menarik masa lalu selama masih berada di padepokansuci Darul Muhajirin,dan sedetik kemudian terbayang dalam  rimba ingatanku tentang riuh rendahnyasuasana lapangan muhajirin(sekarang alun-alun tastura).
Malam itu ditengah lapangan Muhajirin. Disaatbintang-bintang bergelantungan menghiasi langit kota Praya. Diantara petakantanah,ditengah rerumputan,aku bersama dengan Muhtar melakukan diskusi ringanmembicarakan tentang episode pendidikan yang masing masing akan kami tempuhnantinya. Ditemani kuaci dan makanan ringan lainnya,aku mencoba memecahkeheningan malam dengan menanyakan kampus mana yang akan dipilih Muhtar untukmenjadi tempat persinggahannya berproses.
Tiba-tiba  Muhtar membisu,matanyamenukik tajam kearah mataku,telinganya mendenging,mungkin pertanyaanku tadimenjadi cambuk yang tengah mengusik percumbuannya dengan biji-biji kuaci yangberserakan diatas bungkusnya. Seketika rasa bersalah memilin milinku. Namunakhirnya dengan ringan muhtar menjawab”IPDN badek gor”. Jawaban tersebutmembuatku sedikit lega,ternyata apa yang aku pikirkan tentang kesalahankumengusik percumbuannya dengan kuaci tersebut salah.
Sunyi makinmencekam. Sejurus kemudian Muhtar ballik bertanya,”side mbi angenm ak leimkuliah gor”,ucapnya dengan mulut penuh kuaci. CedarrRrrRr..!! bunyi petir ituseolah-olah menyelinap masuk ke dalam pikiranku,pertanyaan yang selama inisering mencuri waktuku. Pertanyaan itupun semakin menjadi jadi. Sambilmengendap ngendap  perlahan,pertanyaanitupun masuk lalu menutupi ingatanku,membuatku semakin sulit untuk menjawabnya.
Mungkinpertanyaan yang seperti ini yang sering membuat para lulusan SMA menjadibingung untuk melanjutkan atau berhenti dan puas dengan hanya menggenggam 3ijazah. Dan menurutku pertanyaan ini lebih susah dari pertanyaanFisika,Kimia,Matematika dan ilmu-ilmu lainnya.
Malam makinmembisu. Malam serasa merangkak begitu perlahan ketika pertanyaan itu takkunjung kujawab. Perasaan bingung makin menjadi jadi ketika kami masih bersiladibawah jilatan sinar lampu pilips yang meliuk-liuk riang diterpa angin.Pertanyaan ini harus ku jawab ,ucapku dalam hati. Lalu aku mencoba tenang danmenarik nafas dalam-dalam,dan sedetik kemudian muncullah suatu tempat yang akurasa bisa menjadi tempat yang tepat untukku berproses(kuliah) nanti. Dan tepatwaktu dimana aku hendak menyebutkan nama itu dengan tegas,namun tiba-tiba suaralengkingan disebrang sana terdengar keras dan mendayu-dayu,lalu mencoba memasukilorong alam sadarku.
Akhirnyaakupun tersadar dari jamuan lamunan singkat. Ternyata suara yang kudengar tadiialah suara adzan maghrib dan aku sedang berada di Jogjakarta,kota yangdisebut-sebut sebagai kota pendidikan itu. Akupun mengakhiri lamunan kudan beranjak menuju sajadah yang sedari tadi merengek-rengek meronta-rontaingin digunakan.Dan akhirnya akupun tenggelam dalam derasnya pelukan sholat.

                                                                                                                   Yogyakarta  28-01-2014
                                                                                                                              

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking