Mahasiswa jurusan Psikologi Universitas Sarjanawiyata (UST) Yogyakarta
angkatan 2013/2014
Dimalam yang semakin dingin.
Dihiasi rinai bingar gerimis dansorak-sorai kawananan katak. Ditambah
denganlengkingan suara cempreng ibu-ibu yang sedang bersenda gurau menggunakan
bahasajawa.
Akusekarang sedang berada di kota
gudek(Jogja). Aku duduk seraya menikmati tiupanangin sendu kota yang dijuluki
kota pendidikan ini. Aku menarik nafasdalam-dalam sembari mencoba menarik masa
lalu selama masih berada di padepokansuci Darul Muhajirin,dan sedetik kemudian
terbayang dalam rimba ingatanku tentang
riuh rendahnyasuasana lapangan muhajirin(sekarang alun-alun tastura).
Malam itu ditengah lapangan
Muhajirin. Disaatbintang-bintang bergelantungan menghiasi langit kota Praya.
Diantara petakantanah,ditengah rerumputan,aku bersama dengan Muhtar melakukan
diskusi ringanmembicarakan tentang episode pendidikan yang masing masing akan
kami tempuhnantinya. Ditemani kuaci dan makanan ringan lainnya,aku mencoba
memecahkeheningan malam dengan menanyakan kampus mana yang akan dipilih Muhtar
untukmenjadi tempat persinggahannya berproses.
Tiba-tiba Muhtar membisu,matanyamenukik tajam kearah
mataku,telinganya mendenging,mungkin pertanyaanku tadimenjadi cambuk yang
tengah mengusik percumbuannya dengan biji-biji kuaci yangberserakan diatas
bungkusnya. Seketika rasa bersalah memilin milinku. Namunakhirnya dengan ringan
muhtar menjawab”IPDN badek gor”. Jawaban tersebutmembuatku sedikit lega,ternyata
apa yang aku pikirkan tentang kesalahankumengusik percumbuannya dengan kuaci
tersebut salah.
Sunyi makinmencekam. Sejurus
kemudian Muhtar ballik bertanya,”side mbi angenm ak leimkuliah gor”,ucapnya
dengan mulut penuh kuaci. CedarrRrrRr..!! bunyi petir ituseolah-olah menyelinap
masuk ke dalam pikiranku,pertanyaan yang selama inisering mencuri waktuku.
Pertanyaan itupun semakin menjadi jadi. Sambilmengendap ngendap perlahan,pertanyaanitupun masuk lalu menutupi
ingatanku,membuatku semakin sulit untuk menjawabnya.
Mungkinpertanyaan yang seperti ini
yang sering membuat para lulusan SMA menjadibingung untuk melanjutkan atau
berhenti dan puas dengan hanya menggenggam 3ijazah. Dan menurutku pertanyaan
ini lebih susah dari pertanyaanFisika,Kimia,Matematika dan ilmu-ilmu lainnya.
Malam makinmembisu. Malam serasa
merangkak begitu perlahan ketika pertanyaan itu takkunjung kujawab. Perasaan
bingung makin menjadi jadi ketika kami masih bersiladibawah jilatan sinar lampu
pilips yang meliuk-liuk riang diterpa angin.Pertanyaan ini harus ku jawab
,ucapku dalam hati. Lalu aku mencoba tenang danmenarik nafas dalam-dalam,dan
sedetik kemudian muncullah suatu tempat yang akurasa bisa menjadi tempat yang
tepat untukku berproses(kuliah) nanti. Dan tepatwaktu dimana aku hendak menyebutkan
nama itu dengan tegas,namun tiba-tiba suaralengkingan disebrang sana terdengar
keras dan mendayu-dayu,lalu mencoba memasukilorong alam sadarku.
Akhirnyaakupun tersadar dari jamuan
lamunan singkat. Ternyata suara yang kudengar tadiialah suara adzan maghrib dan
aku sedang berada di Jogjakarta,kota yangdisebut-sebut sebagai kota pendidikan
itu. Akupun mengakhiri lamunan kudan beranjak menuju sajadah yang sedari tadi
merengek-rengek meronta-rontaingin digunakan.Dan akhirnya akupun tenggelam dalam
derasnya pelukan sholat.
Yogyakarta 28-01-2014

Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking