Donderdag 23 Mei 2013

Islam Dalam Kebudayaan Nusantara

     

Sebelum melangkah lebih jauh sedikit saya uraikan tentang keberadaan tanah air kita yaitu Indonesia. Indonesia dikenal sebagai bangsa yang Pluralistik karena ia menyimpan akar-akar keberagamaan dalam hal agama, etnis, seni budaya dan cara hidup. Sosok keberagaman yang indah ini, dengan latar belakang mosaik-mosaik yang memiliki nuansa khas masing-masing, tidak mengurangi makna kesatuan Indonesia. Motto nasional “Bhineka Tunggal Ika” yang dipakai oleh bangsa Indonesia jelas mempertegas pengakuan adanya “kesatuan dalam keberagaman atau keragaman dalam kesatuan” dalam seluruh spektrum kehidupan kebangsaan kita. Ketika Islam membumi, ia tidak dalam keadaan hampa budaya, tetapi ia masuk dalam arus pergumulan sosial budaya yang digerakkan oleh pemahaman dan penafsiran umat Islam. Prof. Dr. Parsudi Suparlan mengemukakan bahwa agama, secara mendasar dan umum mendefinisikan agama sebagai seperangkat aturan dan peraturan yang mengatur hubungan manusia dengan dunia gaib, khususnya dengan Tuhannya. Selain itu agama juga memuat tentang hubungan manusia dengan manusia lainnya dan mengatur hubungan manusia dengan lingkungan sekitar. Para ahli ilmu-ilmu sosial, khususnya sosiologi dan antropologi  yang perhatiannya adalah  kebudayaan dan masyarakat, mencoba mengkaji dan melihat agama sesuai dengan perspektif yang sejalan dengan corak dari bidang dan pendekatan sosiologi dan antropologi. Para ahli tersebut antara lain Geertz (1966), Lessa Vogt (1972), serta Roberston (1972), dengan tujuan agar dapat digunakan sebgai acuan bagi pendekatan-pendekatan dalam pengkajian agama dalam suatu masyarakat. Selain itu juga para ahli antropologi yang telah menelorkan kajiannya adalah Suparlan, Geertz, Woodward, dan lain sebagainya telah melakukan penelitian dengan menggunakan pendekatan kebudayaan mereka melakukannnya baik secara eksplisit maupun implisit.dalam artikel yang saya jelaskan ulang ini dikatakan bahwa kita tidak menciptakan budaya ataupun kebudayaan malinkan kita hidup dengan mengikuti kebudayaan yang ditransmisikan atau diajarkan kepada kita oleh orang tua atau masyarakat lingkungan sekitar. 
        Kebudayaan sebagai pedoman dalam kehidupan sehari-hari meliputi dan berisikan konsep-konsep, teori-teori, dan metode-metode. Dalam manjalankan kehidupan sehari-hari perlu dan sangat penting untuk menelaah dan memperhatikan konsep, teori, serta metode karena dengan memperhatikan dan memilah  hal tersebut hidup yang kita jalani akhirnya menjadi sesuai dengan kondisi social masyarakat di mana kita tinggal. Jelas dengan landasan tidak melanggar dari kedua aturan yang ada dalam agama dan budaya setempat. Kebudayaan sebagai pedoman bagi kehidupan masyarakat, memungkinkan bagi para warga masyarakat tersebut untuk dapat saling berkomunikasi tampa salah paham antara yang satu dengan yang lain. Karena dengan menggunakan budaya yang sama tentunya di harapkan komunikasi warga yang satu dengan yang lainnya bisa saling memahami. Konsep Pendekatan kebudayaan bisa di gunakan sebagai alat untuk memahami serta mengkaji agama yang hidup di dalam masyarakat. Perlu juga menjadi catatan kita bersama bahwa setiap warga masyarakat mempunyai kebudayaan yang berbeda dan mempunyai keunikan tersendiri. Kebudayaan sebagai pedoman dalam hidup demi tercapainya aspek-aspek kehidupan. Sedangkan agama hanya untuk mencapai tujuan yang bersifat pemenuhan adab yang integratif. Hubungan antara agama dan budaya, agama berfungsi sebagai pedoman moral dan etika yang terwujud sebagai nilai-nilai budaya yang mengintegrasikan dan menjiwai setiap upayapemenuhan secara biologi dan sosial di suatu masyarakat. Dalam artikel ini juga di jelaskan bagaimana misalkan proses islamisasi di jawa yang di lakukan oleh para wali yaitu wali songo langkah pertamanya adalah melalui kebudayaa masyarakat jawa yaitu wayang kulit, dan yang lebih unik lagi yaitu kalimosodo merupakan jelmaan dari kalimat syahadat. 
       Pendekatan kebudayaan juga bisa disebut sebagai pendekatan kualitatif. Inti dari pendekatan ini adalah memahami atau verstehen dari sasaran atau kajian penelitiannya. Sedangkan pendekatan kuantitatif intinya adalah mengukur. Perbedaan antara kedua pendekatan tersebut adalah “Holistik” atau “Sistemik”. Pelopor utama atau Tokoh utama yang menggunakan pendekatan verstehen ini adalah Max Weber yang menjadi cikal bakal dari pendekatan kualitatif atau etnografi dalam penelitian agama. Dalam buku yang yang berjudul The Protestant Ethics and The Spirit of Capitalism, Weber memahami teologi Kristen Protestan aliran Calvin, yang menekankan hidup manusia itu penuh dengan dosa yaitu dosa keturunan dari Adam dan Hawa, walaupun nabi Isa di turunkan sebagai penyelamat bagi manusia namun dosa-dosa tersebut tidak bisa hilang kecuali hanya dengan bertaqwa dan mengabdi kepada Tuhan. Pengabdian tersebut tidak hanya dalam bentuk bersembahyang tapi yang terpenting juga adalah memuliakan  rumah Tuhan atau Gereja. Metode yang di gunakan adah bekerja dengan memperoleh keuntungan yang sebesar-besarnya yang keuntungan tersebut di serahkan kepada Gereja sebagai biaya untuk memuliakannya. Inilah inti dari semangat Kapitalisme yang berasal dari tokoh ternama yaitu Protestan Calvin.


Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking