Donderdag 23 Mei 2013

Fanatisme Primodial Pemicu Konflik

       

Primordialisme merupakan paham yang mengatasnamakan kedaerahan atau sebuah idintitas etnis. primordialisme sering kali di salah pahami oleh sebagian orang, yang dimana seharusnya primordialisme menjadi semangat kebersamaan yang di dasari oleh perbedaan kini sebagai pemicu utama ter-jadinya konflik horizontal. Berkaca dari Hasil survey kompas edisi senin, 8 april 2013 disini kita bisa melihat banyak sekali konflik yang terjadi di dasari oleh primordial kedaerahan dan perbedaan etnis. Dari beberapa konflik horizontal yang terjadi diindonesia sekitar 4,6% berakar dari sentimen kedaerahan atau etnis. sifat fanatisme primoldial yang berakal pada sintimen kedaerahan ini merupakan pemicu utama permusuhan anak bangsa. kita bisa melihat konflik yang terjadi di sumbawa besar NTB dan yang di lampung pada Oktober 2012, merupakan contoh kasus dari sekian banyak kasus, belum lagi kasus bendera aceh. konflik horizontal yang mengatasnamakan primordial kedaerahan merupakan suatu konflik amat sangat sulit disembuhkan, bahkan hal sepelepun bisa menjadi masalah besar kalau digeret kepada persoalan primordial. Sikap panatisme primordial saat ini telah merusak persatuan bangsa.
        Kalau kita berbicara masalah kedaerahan, NTB khususnya. Maka kita bisa melihat fanatisme primordial terselip dalam konsep politik PILKADA saat ini. menjelang PILKADA NTB misalkan antara Lombok dan Sumbawa merupakan duel persaingan ketat di panggung PILKADA yang tidak lain disebabkan oleh primordial yang di legitimasi oleh para elit politik sebagai politik identitas, masing-masing dari kedua ini mempunyai semboyan misalkan di Sumbawa “kita pilih dari golongan kita” kurang lebih bahasanya seperti itu menggunakan bahasa daerahnya begitu juga dengan lombok “kita dukumg semethon sasak” yang sudah jelas sebagai indikasi bahwa dari kedua pihak mempertahankan sentimen primordial, yang mau tidak mau hal ini menyeret kesenjangan sosial masyarakat Lombok dan Sumbawa itu sendiri bahkan pada dataran terkecilpun dalam lingkup ikpm kesenjangan itu terjadi jangankan dengan Sumbawa sesama Lombok-pun kita harus memberi skat (lombok tengah dengan lombok timur). 
          Dalam hal ini tentunya kita sebagai mahasiswa harus bisa menjadi agen perubahan yang bijak atas permasalahan ini. Dan tentunya penulis pempertanyakan ulang tentang konsep Kebineakaan yang kita pahami bukankah semboyan Bhineka Tunggal Ika dalam pancasila yang artinya bahwa perbedaan bukan menjadi sebab sebuah konfik namun tak lain adalah merupakan sebab sebuah kebersamaan?, bukankah didalam al-quran juga di jelaskan bahwa adanya sebuah perbedaan merupakan cikal bakal pemersatu


Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking