Yogyakarta 21 Oktober 2013
*penulis Kha….
Seperti yang kita ketahui bersama,
merupakan salah satu landasan terbentuknya Ikatan Alumni Darul Muhajirin
(IKADM) Yogyakarta membentuk satu ikatan kesatuan yang rukun, damai dan
sejahtera, atau yang lebih dikenal dengan semboyan “Bareng Anyong Saling Sedok” (bang Jho 2009). Hal ini terbukti
dengan berbagai agenda IKADM yang dicanangkan oleh pengurus besar IKADM. Salah satu
wujud kongkritnya bias kita rasakan sendiri yakni agenda masak-masak. Meskipun agenda
ini banyak menghabiskan dana uang saku, namun perlu diacungi jempol karena
agenda masak-masaklah yang lebih berpotensi besar untuk mewujudkan suatu
persatuan, kesatuan, kekopakan dan persaudaraan yang tinggi.
Dengan segelintir nasi dan lauk pauk
yang dimasak dan dikosumsi bersama mencerminkan tingkat persaudaraan yang amat
matang dikalangan sahabat IKADM. Ini merupakan aspek luar yang bias kita
konsumsi setiap agenda ini bergulir. Namun jika ditela’ah lebih dalam lagi,
akan didapati suatu hal yang begitu amat mengganjal yang terjadi dalam agenda
ini. Pasalnya, dalam catatan kronologis Bendahara IKADM (Sri Wahyuni) terdapat
beberapa sahabat yang tidak mencerminkan ketidak kekompakannya. Dan bias dibilang
beberapa sahabat hanya ikut nebeng saja. Ikut nebeng dalam konteks ini
maksudnya adalah ada sebagaian sahabat yang entah disengaja ataupun tidak
disengaja hanya ikut nebeng saja dan bias dibilang iuran NO, masak No, Dan Makan Yessssss….!!!!. hal inilah yang
mencerminkan betapa ketidak kekompakan didalam IKADM.
Mungkin ini hanya kemelut kecil yang
masih bias dimaklumi, karena mungkin pada saat agenda ini tengah terjadi
kemelut Bulan Tua (akhir bulan) dimana anak rantauan belum mendapatkan kiriman
dan tidak mempunyai uang sedikitpun. Satu dua kali mungkin masih bias dimaklumi
akan tetapi jika terjadi berulang kali, maka akan timbul berbagai pertanyaan
mengenai kekompakan dan kesadaran sebagai warga IKADM. Jikalau terjadi berulang
kali, maka bias jadi sahabat yang melakukan hal itu akar terkena sebuah pantun
sasak “Berat ime Mensang Cocok” dan
sebagainya.
Terlepas dari masalah itu, sahabat
IKADM juga masih memiliki suatu yang amat serius dan perlu adanya keadaran dari
diri masing-masing atau setiap individu. Persoalan ini pun akan member dampak
yang segnitifikan dalam proses social setiap harinya dan mungkin bias menimulkan
sifat saling membenci (saling kemeriq) antara sahabat IKADM. Persoalan tersebut
tercermin dari sikap sahabat-sahabat yang meiliki sifat yang bias dikatan tidak
baik yakni ngumpat. Menjelek-jelekkan sahabat yang bersama-sama bernaung
dibawah IKADM. Hal ini juga berpotensi besar akan mempengaruhi titik
keharmonisan antara sahabat dan bias saja akan terjadi perpecahan diantara
kalangan sahabat IKDM itu sendiri.
Selain itu, akan lebih bahaya lagi
jikalau persoalan tersebut dibawa keranah public, maka akan betapa dasyatnya
hal yang akan terjadi. Dan bias saja semboyan Bareng Ayong Saling Sedok itupun akan luntur dari diri Sahabat IKADM. Hal
ini mungkin akan sangat sulit untuk diperbaiki karena pada ujung-ujungnya
permasalahan ini akan kembali kepada individu itu sendiri. Namun selama masih
ada musyawarah dan mufaqat yang damai, mungkin ini akan lebih mudah untuk
diluruskan kembali.
Namun yang perlu menjadi
pertimbangan untuk menstabilisasikan problem tersebut adalah adanya sifat
saling mengerti antara individu yang satu dengan yang lain. Jikalau hal itu
dapat tumbuh dengan sebaiknya maka Bareng
Anyong Saling Sedok pun akan dapat
terwujud dan apa yang menjadi landasan terbentuknya IKADM akan terwujud dengan
apa yang dicita-citakan. Mari
bersama-sama Berproses di IKADM. Jangan ada dusta diantara Kita.
** Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan
Tafsir UIN SUKA
*** Sosok yang selalu dilanda Galau….
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking