Sondag 20 Oktober 2013

KEHARMONISAN IKADM : PERLU DIPERTANYAKAN

Yogyakarta 21 Oktober 2013
*penulis Kha….

            Seperti yang kita ketahui bersama, merupakan salah satu landasan terbentuknya Ikatan Alumni Darul Muhajirin (IKADM) Yogyakarta membentuk satu ikatan kesatuan yang rukun, damai dan sejahtera, atau yang lebih dikenal dengan semboyan “Bareng Anyong Saling Sedok” (bang Jho 2009). Hal ini terbukti dengan berbagai agenda IKADM yang dicanangkan oleh pengurus besar IKADM. Salah satu wujud kongkritnya bias kita rasakan sendiri yakni agenda masak-masak. Meskipun agenda ini banyak menghabiskan dana uang saku, namun perlu diacungi jempol karena agenda masak-masaklah yang lebih berpotensi besar untuk mewujudkan suatu persatuan, kesatuan, kekopakan dan persaudaraan yang tinggi.


            Dengan segelintir nasi dan lauk pauk yang dimasak dan dikosumsi bersama mencerminkan tingkat persaudaraan yang amat matang dikalangan sahabat IKADM. Ini merupakan aspek luar yang bias kita konsumsi setiap agenda ini bergulir. Namun jika ditela’ah lebih dalam lagi, akan didapati suatu hal yang begitu amat mengganjal yang terjadi dalam agenda ini. Pasalnya, dalam catatan kronologis Bendahara IKADM (Sri Wahyuni) terdapat beberapa sahabat yang tidak mencerminkan ketidak kekompakannya. Dan bias dibilang beberapa sahabat hanya ikut nebeng saja. Ikut nebeng dalam konteks ini maksudnya adalah ada sebagaian sahabat yang entah disengaja ataupun tidak disengaja hanya ikut nebeng saja dan bias dibilang iuran NO, masak No, Dan Makan Yessssss….!!!!. hal inilah yang mencerminkan betapa ketidak kekompakan didalam IKADM.

            Mungkin ini hanya kemelut kecil yang masih bias dimaklumi, karena mungkin pada saat agenda ini tengah terjadi kemelut Bulan Tua (akhir bulan) dimana anak rantauan belum mendapatkan kiriman dan tidak mempunyai uang sedikitpun. Satu dua kali mungkin masih bias dimaklumi akan tetapi jika terjadi berulang kali, maka akan timbul berbagai pertanyaan mengenai kekompakan dan kesadaran sebagai warga IKADM. Jikalau terjadi berulang kali, maka bias jadi sahabat yang melakukan hal itu akar terkena sebuah pantun sasak “Berat ime Mensang Cocok” dan sebagainya.

            Terlepas dari masalah itu, sahabat IKADM juga masih memiliki suatu yang amat serius dan perlu adanya keadaran dari diri masing-masing atau setiap individu. Persoalan ini pun akan member dampak yang segnitifikan dalam proses social setiap harinya dan mungkin bias menimulkan sifat saling membenci (saling kemeriq)  antara sahabat IKADM. Persoalan tersebut tercermin dari sikap sahabat-sahabat yang meiliki sifat yang bias dikatan tidak baik yakni ngumpat. Menjelek-jelekkan sahabat yang bersama-sama bernaung dibawah IKADM. Hal ini juga berpotensi besar akan mempengaruhi titik keharmonisan antara sahabat dan bias saja akan terjadi perpecahan diantara kalangan sahabat IKDM itu sendiri.

            Selain itu, akan lebih bahaya lagi jikalau persoalan tersebut dibawa keranah public, maka akan betapa dasyatnya hal yang akan terjadi. Dan bias saja semboyan Bareng Ayong Saling Sedok  itupun akan luntur dari diri Sahabat IKADM. Hal ini mungkin akan sangat sulit untuk diperbaiki karena pada ujung-ujungnya permasalahan ini akan kembali kepada individu itu sendiri. Namun selama masih ada musyawarah dan mufaqat yang damai, mungkin ini akan lebih mudah untuk diluruskan kembali.

            Namun yang perlu menjadi pertimbangan untuk menstabilisasikan problem tersebut adalah adanya sifat saling mengerti antara individu yang satu dengan yang lain. Jikalau hal itu dapat tumbuh dengan sebaiknya maka Bareng Anyong Saling Sedok  pun akan dapat terwujud dan apa yang menjadi landasan terbentuknya IKADM akan terwujud dengan apa yang dicita-citakan. Mari bersama-sama Berproses di IKADM. Jangan ada dusta diantara Kita.

** Mahasiswa Ilmu Al-Quran dan Tafsir UIN SUKA

*** Sosok yang selalu dilanda Galau….

Geen opmerkings nie:

Plaas 'n opmerking